Dolls /ドールズ

Director: Takeshi Kitano
Producer: Masayuki Mori, Takio Yoshida
Writer: Takeshi Kitano
Cinematography: Katsumi Yanagijima
Release Date: October 12, 2002
Runtime: 114 min
Language: Japanese
Country: Japan

- r e v i e w -
Rating : 7.5 / 10

Dalam film Dolls ini Takeshi Kitano ingin membicarakan mengenai sebuah Pengorbanan, Ketidakbahagiaan dan Ketidakbebasan melalui media Boneka “Bunraku (Traditional Japanese Dolls)”.  Film yang rilis pada Tahun 2002 ini mempunyai cerita yang berbeda dari 3 kisah cinta karakternya masing-masing. Diantaranya adalah Matsumoto dan Sawako, Hiro dan kekasihnya yang setia menunggunya kembali sampai puluhan tahun lamanya setelah Hiro memutuskannya dan yang terakhir adalah Haruna dan Nukui. Alur yang disajikan Kitano dalam Film Dolls ini berjalan sangat lambat. Kitano ingin kita sebagai penonton bisa benar-benar menikmati tiap kesedihan yang dialami oleh semua karakter yang ada. Berbicara cinta dan pengorbanan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. bagi kisah cinta klasik, pengorbanan adalah sesuatu yang sakral yang diberikan untuk cinta mereka setara dengan nyawa mereka.

Kisah dibuka dengan pertunjukan Boneka Bunraku, kemudian berlanjut pada kisah Sawako dan Matsumoto. Triger yang diberikan Kitano pada awal film sudah sangat besar, sebuah penolakan dan cinta yang tidak direstui. True Karakter pada film ini untuk kisah Matsumoto sudah terlihat sekitar menit ke 20’. Bagaimana Matsumoto mengambil sebuah keputusan besar untuk menebus kesalahannya kepada Sawako dengan meninggalkan segala kehidupannya. Komitmen Matsumoto kepada Sawako berjalan hingga Akhir. Sisanya, seperti yang sudah disebutkan diatas, Takeshi Kitano ingin penonton bisa menikmati setiap detail kesedihan dan kemirisan yang terjadi pada Matsumoto dengan keputusan yang telah diambilnya itu. Dua kisah selanjutnya terdapat Hiro, seorang mantan Yakuza dan Nukui seorang pekerja yang berkerja pada perbaikan infrastruktur jalan. Secara alur, ketiganya tidak memiliki kaitan satu dengan yang lain, namun kisah ini muncul pada saat Matsumoto dan Sawako berjalan melewati mereka.

Seolah seperti bahan perbandingan bahwa Hiro dan Nukui juga memiliki kisah yang sama.
Ketiga kisah tersebut sama-sama berbicara mengenai pengorbanan, namun dengan cara yang berbeda-beda. Nukui yang sampai rela mendonorkan mataya kepada idol-nya dan Hiro yang tidak bisa berterus terang tentang identitasnya sampai pada akhirnya Hiro harus mati karena ditembak oleh anggota Yakuza, sebagai bentuk pembalasan dendam karena Hiro dulu telah membunuh salah satu ketua dari Yakuza. Selain dari narasi cerita, film ini juga banyak memiliki pesan yang disampaikan melalui semiotika visual, beberapa diantaranya adalah kehadiran kupu-kupu, topeng boneka bunraku dll. Dan pada Ending cerita, bagi saya meninggalkan kesan yang sangat manis bagi kisah cinta Sawako dan Matsumoto. Keadaan yang tragis namun berujung pada sebuah harapan kisah cinta yang mungkin menemui titik terang, pembayaran atas pengorbanan Matsumoto pada akhirnya terbayarkan.

Directing The Actor :
Takeshi Kitano pada film Dolls ini mentreatment Keaktoran pemainnya dengan Phase yang sangat pelan dan cenderung membosankan. Bertolak belakang dengan karakter yang diusung dalam film dengan pemain utama masih muda. Bahkan mungkin Kitano ingin memberikan sebuah perbandingan yang signifikan dengan karakter utama remaja pada era modern dalam menyampaikan nilai “pengorbanan” yang diangkata dalam cerita dengan karakter remaja era klasik. Yang rasanya, hampir mustahil pada era modern kini bisa bertemu dengan karakter remaja seperti matsumoto.

Directing The Camera :
Takeshi Kitano memilih Shot-Shot Statis yang sangat tenang dalam setiap scene. Komposisi secara frame dan semiotika yang dihadirkan dalam setiap Shot bisa tersampaikan dengan jelas dan mendalam. Shot Statis yang sangat tenang yang dihadirkan Kitano juga bisa menginterpretasikan bagaimana kondisi karakter. Karakter yang Depresi, Karakter yang tenang dalam menyikapi masalah.

Text Interpretation :

Dolls = Pengorbanan. Hal inilah yang diangkat Kitano dalam tema filmnya kali ini. 3 Kisah cinta yang berujung Tragis yang menemui takdirnya dengan cara yang berbeda-beda. Pengorbanan Matsumoto kepada Sawako yang digambarkan dengan meninggalkan segala kehidupannya dan berjalan berkelana dengan Sawako untuk menebus kesalahannya pada Sawako. Hiro, Seorang Yakuza yang harus berkorban dengan berhadapan dengan waktu, selama 40 Tahun lebih kekasihnya menunggu Hiro Kembali dan akhirnya bertemu walaupun Hiro tidak mengungkap Identitas aslinya dan yang terakhir pengorbanan yang berbentuk fisik yang dilakukan Nukui dengan mendonorkan matanya kepada idol-nya, yang notabene baik Nukui dan Idolnya tidak saling mengenal secara baik, hanya bermodal mengenal idolnya lewat penampilannya, Nukui mampu mengorbankan segalanya.


ending dolls yang tragis tapi manis.  diluar ekspektasi, suka banget endingnya.

by : JDC Member (Rie)

Dolls (2002) Japanese Movie Review

Dolls /ドールズ

Director: Takeshi Kitano
Producer: Masayuki Mori, Takio Yoshida
Writer: Takeshi Kitano
Cinematography: Katsumi Yanagijima
Release Date: October 12, 2002
Runtime: 114 min
Language: Japanese
Country: Japan

- r e v i e w -
Rating : 7.5 / 10

Dalam film Dolls ini Takeshi Kitano ingin membicarakan mengenai sebuah Pengorbanan, Ketidakbahagiaan dan Ketidakbebasan melalui media Boneka “Bunraku (Traditional Japanese Dolls)”.  Film yang rilis pada Tahun 2002 ini mempunyai cerita yang berbeda dari 3 kisah cinta karakternya masing-masing. Diantaranya adalah Matsumoto dan Sawako, Hiro dan kekasihnya yang setia menunggunya kembali sampai puluhan tahun lamanya setelah Hiro memutuskannya dan yang terakhir adalah Haruna dan Nukui. Alur yang disajikan Kitano dalam Film Dolls ini berjalan sangat lambat. Kitano ingin kita sebagai penonton bisa benar-benar menikmati tiap kesedihan yang dialami oleh semua karakter yang ada. Berbicara cinta dan pengorbanan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. bagi kisah cinta klasik, pengorbanan adalah sesuatu yang sakral yang diberikan untuk cinta mereka setara dengan nyawa mereka.

Kisah dibuka dengan pertunjukan Boneka Bunraku, kemudian berlanjut pada kisah Sawako dan Matsumoto. Triger yang diberikan Kitano pada awal film sudah sangat besar, sebuah penolakan dan cinta yang tidak direstui. True Karakter pada film ini untuk kisah Matsumoto sudah terlihat sekitar menit ke 20’. Bagaimana Matsumoto mengambil sebuah keputusan besar untuk menebus kesalahannya kepada Sawako dengan meninggalkan segala kehidupannya. Komitmen Matsumoto kepada Sawako berjalan hingga Akhir. Sisanya, seperti yang sudah disebutkan diatas, Takeshi Kitano ingin penonton bisa menikmati setiap detail kesedihan dan kemirisan yang terjadi pada Matsumoto dengan keputusan yang telah diambilnya itu. Dua kisah selanjutnya terdapat Hiro, seorang mantan Yakuza dan Nukui seorang pekerja yang berkerja pada perbaikan infrastruktur jalan. Secara alur, ketiganya tidak memiliki kaitan satu dengan yang lain, namun kisah ini muncul pada saat Matsumoto dan Sawako berjalan melewati mereka.

Seolah seperti bahan perbandingan bahwa Hiro dan Nukui juga memiliki kisah yang sama.
Ketiga kisah tersebut sama-sama berbicara mengenai pengorbanan, namun dengan cara yang berbeda-beda. Nukui yang sampai rela mendonorkan mataya kepada idol-nya dan Hiro yang tidak bisa berterus terang tentang identitasnya sampai pada akhirnya Hiro harus mati karena ditembak oleh anggota Yakuza, sebagai bentuk pembalasan dendam karena Hiro dulu telah membunuh salah satu ketua dari Yakuza. Selain dari narasi cerita, film ini juga banyak memiliki pesan yang disampaikan melalui semiotika visual, beberapa diantaranya adalah kehadiran kupu-kupu, topeng boneka bunraku dll. Dan pada Ending cerita, bagi saya meninggalkan kesan yang sangat manis bagi kisah cinta Sawako dan Matsumoto. Keadaan yang tragis namun berujung pada sebuah harapan kisah cinta yang mungkin menemui titik terang, pembayaran atas pengorbanan Matsumoto pada akhirnya terbayarkan.

Directing The Actor :
Takeshi Kitano pada film Dolls ini mentreatment Keaktoran pemainnya dengan Phase yang sangat pelan dan cenderung membosankan. Bertolak belakang dengan karakter yang diusung dalam film dengan pemain utama masih muda. Bahkan mungkin Kitano ingin memberikan sebuah perbandingan yang signifikan dengan karakter utama remaja pada era modern dalam menyampaikan nilai “pengorbanan” yang diangkata dalam cerita dengan karakter remaja era klasik. Yang rasanya, hampir mustahil pada era modern kini bisa bertemu dengan karakter remaja seperti matsumoto.

Directing The Camera :
Takeshi Kitano memilih Shot-Shot Statis yang sangat tenang dalam setiap scene. Komposisi secara frame dan semiotika yang dihadirkan dalam setiap Shot bisa tersampaikan dengan jelas dan mendalam. Shot Statis yang sangat tenang yang dihadirkan Kitano juga bisa menginterpretasikan bagaimana kondisi karakter. Karakter yang Depresi, Karakter yang tenang dalam menyikapi masalah.

Text Interpretation :

Dolls = Pengorbanan. Hal inilah yang diangkat Kitano dalam tema filmnya kali ini. 3 Kisah cinta yang berujung Tragis yang menemui takdirnya dengan cara yang berbeda-beda. Pengorbanan Matsumoto kepada Sawako yang digambarkan dengan meninggalkan segala kehidupannya dan berjalan berkelana dengan Sawako untuk menebus kesalahannya pada Sawako. Hiro, Seorang Yakuza yang harus berkorban dengan berhadapan dengan waktu, selama 40 Tahun lebih kekasihnya menunggu Hiro Kembali dan akhirnya bertemu walaupun Hiro tidak mengungkap Identitas aslinya dan yang terakhir pengorbanan yang berbentuk fisik yang dilakukan Nukui dengan mendonorkan matanya kepada idol-nya, yang notabene baik Nukui dan Idolnya tidak saling mengenal secara baik, hanya bermodal mengenal idolnya lewat penampilannya, Nukui mampu mengorbankan segalanya.


ending dolls yang tragis tapi manis.  diluar ekspektasi, suka banget endingnya.

by : JDC Member (Rie)

No comments: